BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
Bahan bakar minyak adalah sumber energi dengan konsumsi yang terbesar untuk saat ini diseluruh dunia jika dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Tetapi saat ini dunia mengalami krisis bahan bakar minyak. Saat ini harga minyak mentah dunia terus meningkat. Banyak negara, terutama Indonesia, mengalami masalah kekurangan bahan bakar minyak (dari bahan bakar fosil) untuk negaranya sendiri. Indonesia, khususnya, telah mengimpor bahan bakar minyak (terutama bahan bakar diesel/solar) untuk kebutuhan negara dengan jumlah yang cukup besar.
Stok minyak mentah yang berasal dari fosil ini terus menurun sedangkan jumlah konsumsinya terus meningkat setiap tahunnya, sehingga perlu dicari alternatif bahan bakar lain, terutama dari bahan yang terbarukan. Salah satu alternatifnya adalah biodiesel, untuk menggantikan solar.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah biodiesel baik di media cetak maupun media elektronik. Istilah ini menjadi tak asing lagi di telingan kita dan bahkan sepertinya tengah menjadi primadona di zaman sekarang ini. Namun tak sedikit orang yang awam atau juga belum mengetahui (bahkan dari kalangan akademisi) sebenarnya apa yang dimaksud dengan biodiesel itu sendiri. Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, baik minyak baru maupun minyak bekas penggorengan yang mana telah melalui serangkaian proses kimiawi seperti transesterifikasi, esterifikasi, ataupun gabungan dari proses keduanya. Biodiesel digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM untuk motor diesel. Biodiesel dapat diaplikasikan baik dalam bentuk 100 % (B100) atau campuran dengan minyak solar pada tingkat konsentrasi tertentu (Bxx), seperti 10% diesel dicampur dengan 90% solar yang kemudian dikenal dengan istilah nama B10.
Bahan bakar yang berbentuk cair ini bersifat menyerupai solar, sehingga sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Apalagi biodiesel ini memiliki kelebihan lain dibandingkan dengan solar, yakni :
- Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih kecil (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global yang ada saat ini.
- Cetane number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan dengan minyak kasar.
- Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai (biodegradable).
- Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbarui.
- Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal/mandiri.
B.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah proses pembuatan Biodiesel dari minyak goreng ?
C.TUJUAN PENELITIAN
Merujuk kepada hal yang telah dibahas pada bagian rumusan masalah sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat biodiesel dari minyak goreng.
D.MANFAAT PENELITIAN
1. Menambah pengetahuan mengenai alternatif Biodiesel.
2. Menambah pengetahuan tentang pemanfaatan minyak goreng.
3. Biodiesel dari minyak goreng dapat menggantikan penggunaan Bahan Bakar Fosil.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
- Pengertian Minyak Nabati secara Luas
Minyak adalah istilah umum untuk semua cairan organik yang tidak larut/bercampur dalam air (hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik. Ada sifat tambahan lain yang dikenal awam: terasa licin apabila dipegang. Dalam arti sempit, kata 'minyak' biasanya mengacu ke minyak bumi (petroleum) atau produk olahannya: minyak tanah (kerosena). Namun demikian, kata ini sebenarnya berlaku luas, baik untuk minyak sebagai bagian dari menu makanan (misalnya minyak goreng), sebagai bahan bakar (misalnya minyak tanah), sebagai pelumas (misalnya minyak rem), sebagai medium pemindahan energi, maupun sebagai wangi-wangian (misalnya minyak nilam). Minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya yang polaritasnya sama. Minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol”. Jadi minyak juga merupakan senyawa ester. Hasil hidrolisis minyak adalah asam karboksilat dan gliserol. Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang.
Semua minyak nabati dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar namun dengan proses-proses pengolahan tertentu (Y.M Choo, 1994). Tabel 1 menunjukkan berbagai macam tanaman penghasil minyak nabati serta produktifitas yang dihasilkannya.
Tabel 1. Tanaman penghasil minyak nabati serta produktifitasnya
Nama Indo | Nama Inggris | Nama Latin | Kg-/ha/thn |
Sawit | Oil palm | Elaeis guineensis | 5000 |
Kelapa | Coconut | Cocos nucifera | 2260 |
Alpokat | Avocado | Persea americana | 2217 |
K. Brazil | Brazil nut | Bertholletia excelsa | 2010 |
K. Makadam | Macadamia nut | Macadamia ternif. | 1887 |
Jarak pagar | Physic nut | Jatropha curcas | 1590 |
Jojoba | Jojoba | Simmondsia califor. | 1528 |
K. pekan | Pecan nut | Carya pecan | 1505 |
Jarak kaliki | Castor | Ricinus communis | 1188 |
Zaitun | Olive | Olea europea | 1019 |
Kanola | Rapeseed | Brassica napus | 1000 |
Opium | Poppy | Papaver somniferum | 978 |
Sumber: Soerawidjaja, 2006
Tabel 2. Tumbuhan Indonesia Penghasil Minyak-Lemak
Tabei 2.1 Tumbuhan Indonesia Penghasil Minyak-Lemak (1)
Nama | Nama Latin | Sumber | Kadar,%-b kering |
Jarak Kaliki | Ricinus communis | Biji(Seed) | 45-50 |
Jarak Pagar | Jatropha curcas | Inti biji | 40-60 |
Kacang Suuk | Arachis hypogea | Biji | 35-55 |
Kapok/Randu | Ceiba pentandra | Biji | 24-40 |
Karet | Hevea brasiliensis | Biji | 40-50 |
Kecipir | Psophocarpus tetrag. | Biji | 15-20 |
Kelapa | Cocos mucifera | Daging buah | 60-70 |
Kelor | Moringa oleifera | Biji | 30-49 |
Kemiri | Aleurites moluccana | Inti biji(Kernel) | 57-69 |
Kusambi | Sleichera trijuga | Daging biji | 55-70 |
Nimba | Azadirachta indica | Daging biji | 40-50 |
Saga Utan | Adenanthera pavonina | Inti biji | 14-28 |
Sawit | Elais guineensis | Sabut+dg buah | 45-70+46-54 |
Tabel 2.2 Tumbuhan Indonesia Penghasil Minyak-Lemak (2)
Nama | Nama Latin | Sumber | Kadar,%-b Kering |
Akar Kepayang | Hodgsonia macrocarpa | Biji | 65 |
Alpukat | Persea gratissima | Dg buah | 40-80 |
Cokelat | Theobroma cacao | Biji | 54-58 |
Gatep pait | Samadea indica | Biji | 35 |
Kepoh | Sterculia foetida | Inti Biji | 45-55 |
Ketiau | Madhuca mottleyana | Inti Biji | 50-57 |
Malapari | Pongamia pinnata | Biji | 27-39 |
Nyamplung | Callophyllum inophyllum | Inti Biji | 40-73 |
Randu Alas/Agung | Bombax malabaricum | Biji | 18-26 |
Seminai | Madhuca utilis | Inti Biji | 50-57 |
Siur(-Siur) | Xantophyllum lanceatum | Biji | 35-40 |
Tengkawang Tungkul | Shorea stenoptera | Inti Biji | 45-70 |
Srikaya | Annona squamosa | Biji | 15-20 |
Wijen | Sesamum orientale | Biji | 45-55 |
Tabel 2.3 Tumbuhan Indonesia Penghasil Minyak-Lemak (3)
Nama | Nama Latin | Sumber | Kadar,%-b Kering |
Bidaro | Ximenia americana | Inti biji | 49-61 |
Bintaro | Cerbera manghas/odollam | Biji | 43-64 |
Rosela | Hibiscus sabdariffa | Biji | 17 |
Cerakin/Kroton | Croton tiglium | Inti Biji | 50-60 |
Kayu Manis | Cinnamomum burmanni | Biji | 30 |
Padi | Oryza sativa | Dedak | 20 |
Labu Merah | Cucurbita moschata | Biji | 35-38 |
Mayang Batu | Madhuca cuneata | Inti Biji | 45-55 |
Nagasari(gede) | Mesua ferrea | Biji | 35-50 |
Pepaya | Carica papaya | Biji | 20-25 |
Jagung | Zea mays | Germ | |
Rambutan | Nephelium lappaceum | Inti Biji | |
Sirsak | Annona muricata | Inti Biji |
2.Pengertian Minyak Nabati
Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati maupun lemak hewan, namun yang paling umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel adalah minyak nabati. Minyak nabati dan biodiesel tergolong ke dalam kelas besar senyawa-senyawa organik yang sama, yaitu kelas ester asam-asam lemak. Akan tetapi, minyak nabati adalah triester asam-asam lemak dengan gliserol, atau trigliserida, sedangkan biodiesel adalah monoester asam-asam lemak dengan metanol. Perbedaan wujud molekuler ini memiliki beberapa konsekuensi penting dalam penilaian keduanya sebagai kandidat bahan bakar mesin diesel :
1. Minyak nabati (yaitu trigliserida) berberat molekul besar, jauh lebih besar dari biodiesel (yaitu ester metil). Akibatnya, trigliserida relatif mudah mengalami perengkahan (cracking) menjadi aneka molekul kecil, jika terpanaskan tanpa kontak dengan udara (oksigen).
2. Minyak nabati memiliki kekentalan (viskositas) yang jauh lebih besar dari minyak diesel/solar maupun biodiesel, sehingga pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tak mampu menghasilkan pengkabutan (atomization) yang baik ketika minyak nabati disemprotkan ke dalam kamar pembakaran.
3. Molekul minyak nabati relatif lebih bercabang dibanding ester metil asam-asam lemak. Akibatnya, angka setana minyak nabati lebih rendah daripada angka setana ester metil. Angka setana adalah tolok ukur kemudahan menyala/terbakar dari suatu bahan bakar di dalam mesin diesel.
3.Komposisi Minyak Nabati
Komposisi yang terdapat dalam minyak nabati terdiri dari trigliserida-trigliserida asam lemak (mempunyai kandungan terbanyak dalam minyak nabati, mencapai sekitar 95%-b), asam lemak bebas (Free Fatty Acid atau biasa disingkat dengan FFA), mono- dan digliserida, serta beberapa komponen-komponen lain seperti phosphoglycerides, vitamin, mineral, atau sulfur. Bahan-bahan mentah pembuatan biodiesel adalah (Mittelbach, 2004):
a. trigliserida-trigliserida, yaitu komponen utama aneka lemak dan minyak-lemak.
Trigliserida adalah triester dari gliserol dengan asam-asam lemak, yaitu asam-asam karboksilat beratom karbon 6 s/d 30. Trigliserida banyak dikandung dalam minyak dan lemak, merupakan komponen terbesar penyusun minyak nabati. Selain trigliserida, terdapat juga monogliserida dan digliserida. Struktur molekul dari ketiga macam gliserid tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Struktur Molekul Monogliserida, Digliserida, Trigliserida
b. asam-asam lemak, yaitu produk samping industri pemulusan (refining) lemak dan minyak-lemak.

Gambar 1.2 Struktur Molekul Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terpisahkan dari trigliserida, digliserida, monogliserida, dan gliserin bebas. Hal ini dapat disebabkan oleh pemanasan dan terdapatnya air sehingga terjadi proses hidrolisis. Oksidasi juga dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam minyak nabati.
Dalam proses konversi trigliserida menjadi alkil esternya melalui reaksi transesterifikasi dengan katalis basa, asam lemak bebas harus dipisahkan atau dikonversi menjadi alkil ester terlebih dahulu karena asam lemak bebas akan mengkonsumsi katalis. Kandungan asam lemak bebas dalam biodiesel akan mengakibatkan terbentuknya suasana asam yang dapat mengakibatkan korosi pada peralatan injeksi bahan bakar, membuat filter tersumbat dan terjadi sedimentasi pada injektor (www.journeytoforever.com). Pemisahan atau konversi asam lemak bebas ini dinamakan tahap preesterifikasi.
4.Transesterfikasi
Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap konversi dari trigliserida (minyak nabati) menjadi alkyl ester, melalui reaksi dengan alkohol, dan menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Di antara alkohol-alkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber/pemasok gugus alkil, metanol adalah yang paling umum digunakan, karena harganya murah dan reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi disebut metanolisis). Jadi, di sebagian besar dunia ini, biodiesel praktis identik dengan ester metil asam-asam lemak (Fatty Acids Metil Ester, FAME). Reaksi transesterifikasi trigliserida menjadi metil ester dapat dilihat pada Gambar 1.3

Gambar 1.3 Reaksi Transesterifikasi dari Trigliserida menjadi Ester Metil Asam-Asam Lemak dan Gliserol
Transesterifikasi juga menggunakan katalis dalam reaksinya. Tanpa adanya katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi berjalan dengan lambat (Mittlebatch,2004). Katalis yang biasa digunakan pada reaksi transesterifikasi adalah katalis basa, karena katalis ini dapat mempercepat reaksi.
Reaksi transesterifikasi sebenarnya berlangsung dalam 3 tahap yaitu sebagai berikut:

Gambar 1.4 Tahapan Reaksi Transesterifikasi
Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil asam-asam lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah produk, yaitu:
a. Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi.
b. Memisahkan gliserol.
c. Menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi eksoterm).
5. Deskripsi Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar mesin diesel yang berupa ester metil asam-asam lemak, dibuat dsari minyak-lemak nabati dengan proses transesterifikasi yang akan menghasilkan zat lain berupa gliserin. Biodiesel bersifat kompatibel dengan solar yang berdaya lumas lebih baik. Biodiesel berkadar belerang hampir nihil, umumnya < 15 ppm.
Biodiesel berbentuk cairan berwarna kuning cerah sampai kuning kecoklatan. Biodiesel tidak dapat dicampur dengan air, mempunyai titik didih tinggi dan mempunyai tekanan uap rendah.Bbiodiesel terdiri dari senyawa campuran methyl ester dari rantai panjang asam-asam lemak dari minyak tumbuh-tumbuhan yang memiliki flash point 150 °C (300 °F), density 0.88 g/cm³, dibawah density air. Biodiesel tidak memiliki senyawa toksik dan tidak mengandung sulfur.
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono--alkyl ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan. Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas. Setelah melewati proses ini, tidak seperti minyak sayur langsung, biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel (solar) dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus. Namun, biodiesel lebih sering digunakansebagai penambah untuk diesel petroleum, meningkatkan bahan bakar diesel petrol murni ultra rendah belerang yang rendah pelumas. Biodiesel merupakan kandidat yang paling dekat untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena biodiesel merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual dengan menggunakan infrastruktur sekarang ini. Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati maupun lemak hewan, namun yang paling umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel adalah minyak umbuhan yang dinamakan nabati.
Minyak nabati dan biodiesel tergolong ke dalam kelas besar senyawa-senyawa organik yang sama, yaitu kelas ester asam-asam lemak. Akan tetapi, minyak nabati adalah triester asam-asam lemak dengan gliserol, atau trigliserida, sedangkan biodiesel adalah monoester asam-asam lemak dengan metanol. Perbedaan wujud molekuler ini memiliki beberapa konsekuensi penting dalam penilaian keduanya sebagai kandidat bahan bakar mesin diesel :
1. Minyak nabati (yaitu trigliserida) berberat molekul besar, jauh lebih besar dari biodiesel (yaitu ester metil). Akibatnya, trigliserida relatif mudah mengalami perengkahan (cracking) menjadi aneka molekul kecil, jika terpanaskan tanpa kontak dengan udara (oksigen).
2. Minyak nabati memiliki kekentalan (viskositas) yang jauh lebih besar dari minyak diesel/solar maupun biodiesel, sehingga pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tak mampu menghasilkan pengkabutan (atomization) yang baik ketika minyak nabati disemprotkan ke dalam kamar pembakaran.
3. Molekul minyak nabati relatif lebih bercabang dibanding ester metil asam-asam lemak. Akibatnya, angka setana minyak nabati lebih rendah daripada angka setana ester metil. Angka setana adalah tolok ukur kemudahan menyala/terbakar dari suatu bahan bakar di dalam mesin diesel.
6 . Pengolahan Minyak Goreng sebagai Biodiesel
Minyak nabati supaya tidak pekat pada temperatur rendah akan kita esterfikasi menggunakan senyawa methoksi, senyawa methoksi kita buat dari methanol (spirtus) ditambah dengan NaOH, setelah menjadi senyawa methoksi kita campur dengan minyak goreng yang telah kita siapkan didalam gelas kimia 1000 mL untuk menyempurnakan reaksi esterifikasi campuran tersebut diaduk menggunakan magnetic stirrer yang telah kita persiapkan dan diaduk selama 30 menit. Setelah selesai pengadukan disaring dengan corong pemisah untuk memisahkan gliserin dengan biodiesel. Setelah biodiesel terbentuk, kemudian dilakukan pemurnian dengan mengukur pH hingga mencapai pH 7, selanjutnya dimurnikan biodiesel dengan menambahkan air panas dan dididihkan hingga suhu 1000 C.
Garis Besar Langkah Proses Pembuatan Biodiesel
Minyak Goreng
Metanol Reaksi Transesterifikasi
Pemurnian
Biodiesel
B. HIPOTESIS
Biodiesel dapat dibuat dari minyak goreng sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil dengan proses transesterfikasi menggunakan metanol dan katalis.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.METODOLOGI
Merujuk kepada hal yang telah dibahas pada Bab I, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat biodiesel dari minyak goreng dengan Metode Eksperimen.
Minyak Goreng
Metanol Reaksi Transesterifikasi
Pemurnian
Biodiesel
B.TEMPAT dan WAKTU
1.Tempat
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
2.Waktu
Penelitian ini dilakukan pada hari Selasa, 14 Desember 2010.
C. INSTRUMEN PENELITIAN
1. Alat:
1. Heat Mecanic Stirrer
2. Magnetic Stirrer
3. Gelas kimia 1000 mL
4. Gelas kimia 250 mL
6. Gelas kimia 100 mL
7. Corong pemisah
8. Stopwatch
9. Indikator universal
10. Pipet tetes
11.Termometer
2. Bahan:
1. Minyak goreng 200 mL
2. Katalis : NaOH (1% berat minyak goreng) 2 mL
3. Metanol (10% berat minyak goreng) 20 mL
4. Asam asetat
D.PROSEDUR PENELITIAN
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Memanaskan minyak pada Heat Mecanic Stirrer hingga mencapai suhu 500C .
3. Mencampurkan NaOH dan metanol, diaduk hingga merata.
4. Memasukan campuran NaOH dan Metanol pada minyak goreng yang sudah dipanaskan dan mengaduk dengan Magnetic Stirrer selama 30 menit.
5. Memisahkan Biodiesel dan gliserol dengan corong pisah.
6. Biodiesel yang dihasilkan dibuat netral dengan penambahan asam asetat.
7. Memurnikan Biodiesel dari zat-zat lain yang mungkin terkandung dengan menambahkan air panas.
8. Mengaduk larutan Biodiesel pada Heat Magnetic Stirrer hingga air dan Biodiesel tercampur merata.
9. Memisahkan larutan Biodiesel dengan air.
10. Memasukan Biodiesel kedalam tabung erlemeyer.
11. Memanaskan kembali Biodiesel hingga mencapai suhu 1000 C.
12. Biodiesel terbentuk.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. HASIL PENGAMATAN
Campuran NaOH dan Metanol membentuk senyawa methoksi. Pemanasan minyak goreng kemudian dicampur dengan senyawa methoksi menghasilkan Biodiesel yang berwarna kuning pucat, karena mengandung zat lain berupa gliserin. Gliserin berupa cairan berwarna cokelat dan berasa manis. pH biodiesel yang terbentuk pH 10, untuk menetralkan Biodiesel dengan menambahkan asam asetat dan pH menjadi pH 7. Pemurnian Biodiesel dengan menambahkan air panas dan dilakukan pengadukan hingga tercampur menghasilkan air dengan pH 4. Biodiesel yang telah dipanaskan hingga 1000 C berwarna kuning keemasan sebanyak 125 mL.
2. PEMBAHASAN
Proses pembuatan Biodiesel dari minyak goreng menggunakan senyawa methoksi yang dibuat dari campuran NaOH dan metanol. NaOH berfungsi sebagai katalis yang dapat mempercepat reaksi. Minyak goreng sebanyak 200 mL dipanaskan hingga suhu 500C dan dicampur dengan senyawa methoksi berwarna kuning keemasan. Selain Biodiesel menghasilkan gliserol, gliserol yang dihasikan masih berwarna cokelat. Biodiesel dimurnikan dengan ditambahkan air panas dan diaduk menggunakan magnetic stirrer. Air dan Biodiesel dipisahkan dengan corong pemisah. Biodiesel yang dihasilkan dipanaskan kembali hingga suhu 1000C. Biodiesel yang terbentuk sebanyak 125 mL. Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar atau sebagai campuran solar untuk meningkatkan kualitas emisi.
BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini ialah bahwa minyak.goreng kemudian diolah dengan beberapa proses dapat menghasilkan Biodiesel, alternatif pengganti bahan bakar minyak. Untuk 200 mL minyak goreng, 20 mL metanol dan 2 mL NaOH menghasilkan 125 mL Biodiesel serta sisanya gliserol.
B. SARAN
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, maka kami akan memberikan saran yang ditujukan kepada pembaca, agar dalam penelitian selanjutnya akan menghasilkan hasil penelitian yang lebih baik diantaranya :
1. Dalam pembuatan Biodiesel dari minyak goreng disarankan untuk penelitian lebih lanjut dengan perbandingan yang lain antara minyak goreng, metanol dan katalis.
2. Pemurnian Biodeiesel menggunkan air mendidih agar reaksi lebih cepat.
3. Proses pengadukan diusahakan tidak lambat untuk mempercepat reaksi.
4. Sebelum ditambah dengan air mendidih pH harus netral.
DAFTAR PUSTAKA
1. Musanif,Jamil.Biodiesel
2. A,G.Sulaeman.Jenis Tanaman biofuel & Karakteristiknya.
4. Choo, Yuen May.; Ong, Soon Hock. “Transesterification of Fats and Oils”. UK Patent Application GB 2 188 057, 1987.
5. Freedman, B.; Pryde.E.H.; Mounts. T.L. “Variables Affecting the Yields of Fatty Esters from Transesterfied Vegetable Oils”. 1984.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar