Selasa, 03 Mei 2011

TAHAYUL DALAM ILMU KIMIA

Masyatakat primitif sangata lekat dengan hal-hal yang berbau tahayul. Mereka percaya hal-hal yang sulit masuk akal sebagai sesuatu yang sudah ‘ditakdirkan’. Para ilmuwan pun tidak terlepas dari cara berpikir seperti itu. Dalam perkembangan ilmu kimia, Kita menjumpai beberapa contoh. Salah satunya adalah aturan oktet yang menyatakan bahwa senyawa akan bersifat stabil jika mempunyai elektron valensi delapan. Hal ini telah menghambat penelitian kemungkinan unsur gas mulia membentuk senyawa. Namun kemudian, Rampsay dari India telah berhasil membuat senyawa xenon.
Contoh lain yaitu pemahaman tentang sifat senyawa karbon. Pada awalnya, tidak satupun senyawa organik dapat disintesis dalam laboratorium, sehingga timbul suatu paham yang mengaggap bahwa untuk menyintesis senyawa organik diperlukan daya hidup (daya hidup : sepertui perasaan, emosi, dan sebagainya ). Paham ini disebut vitalisme. Namun demikian, pada tahun 1826, seoramng ahli kimia dari Jerman, Frederic Wohler, berhasil menyintesisi urea dari amonium sianiat melalui pemanasan. Dan sejak penemeuan tersebut, kini talah jutaan senyawa organik berhasil desintesis.
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memang membawa penimgkatan pemahaman manusia atas berbagai gejala laam. Namun, kemajuan tersebut harus diimbangi dengan kebijakan dalam menyikapinya. Pendekatan rasional saja tisdak cukup, dibutuhkan sisi-sisi intelektual lain untuk memahami alam dan kehidupan secara utuh dan menyeluruh. Kearoganan manusia atas kemampuannya menggunakan rasio dapat membaw apada perasaan selalu skeptis dan tidak puas atas kehidupan yang dijalaninya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar